Akidah Salafi ( versi Muhd abd wahab/ibn taimiyah ) yang paling utama dan berbahaya ialah Allah bertempat di langit atau arasy berdalil zahir makna ayat istiwa alal arsy.
Dibawah ialah dalil-dalil untuk membuktikan akidah salafi versi Muhd Abd Wahab ini ialah tidak benar dan tidak wajar dipegang sebagai akidah seorang muslim dan mukmin :
DALIL 1 ( AYAT 7 SURAH ALI IMRAAN )
Dia lah yang menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab Suci Al-Quran. Sebahagian besar dari Al-Quran itu ialah ayat-ayat "Muhkamaat" (yang tetap, tegas dan nyata maknanya serta jelas maksudnya); ayat-ayat Muhkamaat itu ialah ibu (atau pokok) isi Al-Quran. Dan yang lain lagi ialah ayat-ayat "Mutasyaabihaat" (yang samar-samar, tidak terang maksudnya). Oleh sebab itu (timbulah faham yang berlainan menurut kandungan hati masing-masing) - adapun orang-orang yang ada dalam hatinya kecenderungan ke arah kesesatan, maka mereka selalu menurut apa yang samar-samar dari Al-Quran untuk mencari fitnah dan mencari-cari Takwilnya (memutarkan maksudnya menurut yang disukainya). Padahal tidak ada yang mengetahui Takwilnya (tafsir maksudnya yang sebenar) melainkan Allah. Dan orang-orang yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya dalam ilmu-ilmu agama, berkata:" Kami beriman kepadanya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami" Dan tiadalah yang mengambil pelajaran dan peringatan melainkan orang-orang yang berfikiran.
- Allah membahagi kan ayat-ayat quran kepada 2 jenis. jenis 1 ialah muhkamat yang nyata makna dan jelas maksudnya. Jenis ke -2 ialah mutasyabihat iaitu ayat-ayat kesamaran, tidak terang maksudnya.
- Allah berfirman orang yang cenderung hati ke arah sesat ialah orang yang mengikut dan mengambil apa yang samar-samar dari ayat2 mutasyabihat. Bermakna orang yang memahami apa yang kesamaran dalam quran sebagai akidah mereka ialah golongan yg cenderung pada sesat.
- Allah berfirman ada golongan yang ketahui taqwil ( makna tersirat ) pada ayat mutasyabihat iaitu orang yang tetap teguh dan mendalam ilmu agamanya.
- Apa lagi yang mahu dinafikan oleh salafi kurun 13H ni ? mereka memilih untuk memahami ayat2 kesamaran dalam quran dalam konteks zahir makna/makna tersurat pada ayat2 mutasyabihat ( secocok dengan golongan disebut Allah cenderung hatinya pada kesesatan ).
- Bertempat , beranggota tubuh JELAS ialah sifat fizikal makhluk ciptaan Allah, justeru bila ayat2 secara zahirnya(tersurat) mungkin bermakna duduk berselendik di arasy, beranggota tubuh seperti tangan dan wajah ADALAH AYAT-AYAT KESAMARAN AKA MUTASYABIHAT yang mana bila kita memahaminya secara zahir makna ( makna tersurat ) ianya suatu kesalahan besar dan termasuk golongan yang cenderung hati pada kesesatan !!
- hakikat nya , dalil no.1 sudah patut memadai untuk menjelaskan kebenaran bagi orang yang mahukan kebenaran dan mencari kebenaran dan sudah pasti bila mengikut hawa nafsu, dalil sejelas ini akan ditolak dan diputar belit sesetengah salafi yang degil.
DALIL 2 ( AL BAQARAH AYAT 186 )
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanku (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul.
Asbabun Nuzul ayat ini :( Peristiwa ketika ayat diturunkan )
- Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abusy Syaikh, dan lain-lain dari beberapa jalan, dari Jarir bin ‘Abdilhamid, dari ‘Abdah as-Sajastani, dari ash-Shalt bin Hakim bin Mu’awiyah bin Jayyidah, dari bapaknya, yang bersumber dari datuknya.
Bahwa ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi saw. yang bertanya: “Apakah Tuhan itu dekat, sehingga kami dapat munajat/memohon kepada-Nya, atau jauh, sehingga kami harus menyeru-Nya?”
Nabi saw. terdiam, sehingga turunlah ayat ini (al-Baqarah: 186) sebagai jawaban atas pertanyaan itu.
Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari al-Hasan. Hadits ini mursal, tetapi ada beberapa sumber yang memperkuatnya. Bahwa ayat ini (al-Baqarah: 186) turun sebagai jawaban terhaap beberapa sahabat yang bertanya kepada Nabi saw.: “Dimanakah Rabb kita?”
Ulasan :
Jika Allah bertempat di arasy atau langit seperti mana yg dijadi akidah oleh Salafi Muhd abd wahab , sudah tentu jawapan dari nabi berbunyi , wahai sahabat ,tidak kah Allah istiwa di arasy ?
atau pun Allah di arasy atau langit, TAPI JELAS TURUN WAHYU menyatakan Allah dekat dengan hambaNya.
#jelas Allah tidak berada di langit atau di arasy seperti sangkaan akidah salafi
DALIL 3 ( SURAH QAAF AYAT 16 )
maksudnya :
Dan demi sesungguhnya, Kami telah mencipta manusia dan Kami sedia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,
Hadis Imam Ahmad :
"imam Ahmad berkata, dari Abu Musa Al-Asyari, dia berkata,
" Kami pernah bersama Rasulullah dalam satu peperangan, dan tidaklah kami menaiki suatu tanjakan, berada di suatu ketinggian atau menuruni lembah kecuali kami bertakbir dengan suara keras ", Abu Musa berkata.
Kemudian, Rasulullah mendekati kami lalu bersabda,
" Wahai manusia, tenangkan lah diri kalian, kerana kalian tidak menyeru Dzat yang tuli lagi ghaib,
kalian hanya menyeru pada Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sesungguhnya, Dzat yang kalian seru lebih dekat dengan salah seorang dari kalian dibandingkan dengan leher haiwan tunggangannya."
Ulasan :
Sekali lagi , dalam kedua2 ayat quran dan hadis tersebut jelas Rasulullah sendiri mengatakan Dzat Allah itu dekat dan jika benar la istiwa alal arsy merujuk Allah berada di arasy atau langit, sudah pasti Rasulullah akan bersabda demikian, tetapi Rasulullah bersabda , Dzat Tuhan itu dekat .
#Allah Wujud Tanpa Memerlukan Tempat !
DALIL 4 ( SURAH WAAQIAH AYAT 83-85 )
maksudnya :
Maka alangkah eloknya kalau semasa (roh seseorang dari kamu yang hampir mati) sampai ke kerongkongnya,
Sedang kamu pada masa itu (berada di sekelilingnya) menyaksikan keadaannya, Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat,
KALAU IKUT CARA SALAFI WAHABI ( TANPA TAKWIL ) :
- Allah lebih dekat dengan orang yang sedang dikeluar roh tika sakaratulmaut berbanding manusia-manusia yang menyaksikan orang yg ditarik roh itu.
Ulasan :
Sekali tanpa taqwil, Allah bukan berada di arasy atau langit bahkan ada dekat dengan orang yang ditarik roh di serata dunia. Cukuplah beriman, Allah wujud tanpa memerlukan tempat dan Allah itu dekat dengan hambaNya.
#Allah Wujud Tanpa Memerlukan Tempat !
DALIL 5 ( SURAH HADIID AYAT 4 )
maksudnya :
Dia lah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Ia bersemayam di atas Arasy; Ia mengetahui apa yang masuk ke bumi serta apa yang keluar daripadanya; dan apa yang diturunkan dari langit serta apa yang naik padanya. Dan Ia tetap bersama-sama kamu di mana sahaja kamu berada, dan Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.
KALAU IKUT CARA SALAFI WAHABI ( TANPA TAKWIL ) :
Allah berada bersama-sama manusia di mana sahaja manusia berada .dan bukan berada di langit atau arasy..
Ulasan :
Cukup dengan berakidah Allah Maha Sempurna dan tidak memerlukan tempat.
DALIL 6 ( SURAH MUJAADALAH AYAT 7 )
maksudnya :
Tidakkah engkau memikirkan, bahawa sesungguhnya Allah mengetahui segala yang ada di langit dan yang ada di bumi? Tiada berlaku bisikan antara tiga orang melainkan Dia lah yang keempatnya, dan tiada (berlaku antara) lima orang melainkan Dia lah yang keenamnya, dan tiada yang kurang dari bilangan itu dan tiada yang lebih ramai, melainkan Ia ada bersama-sama mereka di mana sahaja mereka berada. Kemudian Ia akan memberi tahu kepada mereka - pada hari kiamat - apa yang mereka telah kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.
KALAU IKUT CARA SALAFI WAHABI ( TANPA TAKWIL ) :
Allah berada bersama manusia di mana sahaja mereka berada . dan andai manusia berbisik bertiga, maka Allah yang ke empat
Ulasan :
Cukup dengan berakidah Allah Maha Sempurna dan tidak memerlukan tempat.
DALIL 7 ( SURAH AL BURUJ AYAT 19-20 )
Maksudnya :
(Kaummu wahai Muhammad, bukan sahaja menolak ajaranmu), bahkan orang-orang yang kafir itu terus tenggelam dalam keadaan mendustakan kebenaran;Sedang Allah, dari belakang mereka, melingkungi mereka
KALAU IKUT CARA SALAFI WAHABI ( TANPA TAKWIL ) :
Dalam ayat ni, mengatakan Allah di bumi melingkungi orang kafir dan bukan di arasy
Ulasan :
Cukup dengan berakidah Allah Maha Sempurna dan tidak memerlukan tempat.
DALIL 8 ( SURAH AL BAQARAH AYAT 115 )
Maksudnya :
Dan Allah jualah yang memiliki timur dan barat, maka ke mana sahaja kamu arahkan diri (ke kiblat untuk mengadap Allah) maka di situlah wajah Allah; sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmatNya dan limpah kurniaNya), lagi sentiasa Mengetahui.
KALAU IKUT CARA SALAFI WAHABI ( TANPA TAKWIL ) :
ke arah mana kita menghadap kiblat di situ wajah Allah ?? sekali lagi zahir ayat kata
Allah bukan di arasy
DALIL 9 ( SURAH AS SAAFFAT AYAT 99 )
Maksudnya :
Dan Nabi Ibrahim pula berkata: "Aku hendak (meninggalkan kamu) pergi kepada Tuhanku, Ia akan memimpinku (ke jalan yang benar).
KALAU IKUT CARA SALAFI WAHABI ( TANPA TAKWIL ) :
andai diikut makna zahir ayat tanpa taqwil ( cari makna tersirat ), maka Nabi Ibrahim berkata Allah berada di Palestin , bukan di arasy atau langit.
Ulasan :
Cukup dengan berakidah Allah Maha Sempurna dan tidak memerlukan tempat.
DALIL 10 ( HADIS RIWAYAT BUKHARI : 405 )
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ، فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ، فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ فَقَالَ " إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلاَتِهِ، فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ ـ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ ـ فَلاَ يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ، وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ، أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ ". ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيهِ، ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ، فَقَالَ " أَوْ يَفْعَلْ هَكَذَا ".
maksudnya :
Qutaibah menyampaikan kepada kami dari Ismail bin Ja’far, dari Humaid, dari Anas bahwa Nabi fg melihat dahak di arah kiblat (di dinding masjid). Beliau merasa terganggu dengan hal itu, yang nampak pada ekspresi wajahnya. Kemudian, beliau berdiri dan menggosoknya lalu berkata, “Sungguh, ketika salah seorang dari kalian mendirikan shalat, berarti dia sedang bermunajat kepada Tuhannya, atau Tuhannya berada di antara dia dan kiblat (menghadap Tuhannya). Oleh karena itu, jangan pernah meludah ke arah kiblat, tapi muludahlah ke arah kiri atau di bawah kakinya .“ Kemudian, Nabi & mengambil ujung rida’-nya, meludah di dalamnya, lalu melipatnya dan berkata, “Atau lakukanlah seperti ini.“
KALAU IKUT CARA SALAFI WAHABI ( TANPA TAKWIL ) :
Main cara salafi wahabi, zahir ayat hadis ni makna Tuhan berada di antara dia dan kiblat dan bukan di langit atau arasy., jadi orang solat di malaysia, Allah berada antara dia dan kaabah ikut arah malaysia ? orang solat di Jepun, Allah di antara dia dan kaabah ikut arah Jepun ?
Cukup lah berakidah Allah Maha Sempurna , tidak memerlukan tempat iaitu makhluk ciptaan Allah.
DALIL 11 ( KITAB FARQ BAINA WAL FIRAQ : 256 )
Ulama' salaf Imam Abu Manshur al Baghdadi berkata dalam kitabnya :
"Kaum muslimin sejak generasi salaf ( para sahabat dan tabi'in) telah bersepakat bahawa Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh waktu "
DALIL 12 ( HADIS RIWAYAT BUKHARI : 3191 )
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، حَدَّثَنَا جَامِعُ بْنُ شَدَّادٍ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَقَلْتُ نَاقَتِي بِالْبَابِ فَأَتَاهُ نَاسٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ، فَقَالَ: "اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ، قَالُوا: قَدْ بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا مَرَّتَيْنِ، ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ، فَقَالَ: اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ، قَالُوا: قَدْ قَبِلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالُوا: جِئْنَاكَ نَسْأَلُكَ عَنْ هَذَا الْأَمْرِ، قَالَ: كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَنَادَى مُنَادٍ ذَهَبَتْ نَاقَتُكَ يَا ابْنَ الْحُصَيْنِ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا هِيَ يَقْطَعُ دُونَهَا السَّرَابُ فَوَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ تَرَكْتُهَا".
Diriwayatkan dari Imran bin Hushain ra, dia berkata: Rasulullah Saw pernah bersabda, "Allah ada sebelum segala sesuatu selain Allah ada. Arasy Allah di atas air (benda cair). Allah menetapkan segala sesuatu di dalam Kitab dan Allah menciptakan langit dan bumi". Ketika Rasulullah Saw sedang bercerita seperti itu, tiba-tiba ada seseorang memanggil Imran bin Hushain, "Hai Imran, ontamu kabur". Kata Imran, "Maka saya beranjak, tiba-tiba saya tidak bisa melihat onta saya karena terhalang kabut. Demi Allah, saya ingin rasanya membiarkan onta saya (agar bisa tetap mendengarkan sabda Rasulullah Saw).
Ulasan :
Nabi sendiri sudah terang dan jelas bersabda Allah wujud sebelum tercipta sekalian makhluk alam ni termasuk arasy... dan sifat Allah kekal dan tidak berubah yakni sifat Allah sebelum arasy tercipta dan selepas arasy tercipta kekal sama yakni tidak memerlukan arasy dan tidak bertempat.
DALIL 13 ( SUNAN ALTIRMIZI : 3109 )
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ وَكِيعِ بْنِ حُدُسٍ، عَنْ عَمِّهِ أَبِي رَزِينٍ، قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ ؟ قَالَ : " كَانَ فِي عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ وَخَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ " ، قَالَ أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ ، قَالَ يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ الْعَمَاءُ : أَيْ لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ ، قَالَ أَبُو عِيسَى : هَكَذَا رَوَى حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ ، وَكِيعُ بْنُ حُدُسٍ ، وَيَقُولُ شُعْبَةُ ، وَأَبُو عَوَانَةَ ، وَهُشَيْمٌ : وَكِيعُ بْنُ عُدُسٍ وَهُوَ أَصَحُّ ، وَأَبُو رَزِينٍ اسْمُهُ لَقِيطُ بْنُ عَامِرٍ ، قَالَ : وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ .
maksudnya :
"Abi Razin berkata , :" Aku berkata , Wahai Rasulullah, di mana kah Tuhan kita sebelum menciptakan makhluk-Nya? Rasulullah bersabda , " Allah ada tanpa sesuatu apa pun yang menyertaiNya. Di atasNya tidak ada sesuatu dan dibawahNya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menempatkan arasy di atas air"
Ulasan :
Jelas, sebelum dicipta arasy , Rasulullah bersabda Allah wujud tanpa ada sesuatu pun termasuk arasy sebelum mula dicipta makhlukNya. Allah tidak berubah sebelum dan selepas penciptaan makhlukNya.
DALIL 14 ( AKIDAH SAIYYIDINA ALI )
"Allah ada sebelum adanya tempat. Dan keberadaan Allah sekarang , sama seperti sebelum adanya tempat " - al-Farq bayna al-Firaq 256 )
ulasan :
Sayyidina Ali, sahabat Rasulullah yang dijamin syurga berakidah Allah setelah tercipta makhluk kekal sama seperti sebelum dicipta makhluk dan tempat.
Clear ! Allah tidak di arasy atau di langit.
**SEBEGITU BANYAK DALIL DIATAS , BAHKAN LEBIH DARI ITU CUKUP UNTUK MENJELASKAN PADA ORANG AWAM BAHAWA BERAKIDAH ALLAH DUDUK DI LANGIT ATAU ARASY ITU TIDAK BENAR, TIDAK TEPAT, DAN BUKAN AKIDAH SALAF. IANYA KEJAHILAN ATAU AKIDAH BATIL REKAAN YANG MENGAMBIL ZAHIR MAKNA AYAT MUTASYABIHAT UNTUK MENGIKUT HAWA NAFSU MEREKA.
CUKUP BERAKIDAH, ALLAH WUJUD TIDAK MEMERLUKAN TEMPAT, DAN ALLAH MAHA SEMPURNA !!]
ALLAH BUKAN DI LANGIT (BAHAGIAN 1)Salah satu keyakinan Islam yang wajib diyakini adalah bahawa Allah Ta’ala itu tidak berada di suatu tempat, tidak di langit dan tidak di bumi. Keyakinan keberadaan Allah di langit ini merupakan sebuah keyakinan sesat dan menyesatkan. Keyakinan Allah bertempat di langit bermula dari keyakinan kelompok yang sering disebut sebagai kelompok mujassimah (kelompok yang menyatakan tuhan bersifat dengan sifat benda. Pada zaman sekarang mereka sering menamakan dirinya sebagai kaum Salafi).Berikut ini keterangan para ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjelaskan bahawa Allah tidak bertempat di langit, yakni sebagai berikut:1. Abd al-Qahir al-Bagdadi (w. 429 H) dalam kitabnya al-Farq baina al-Firaq mengatakan:واجمعوا على انه لا تحويه السماء ولا يجري عليه الزمان“Telah terjadi ijmak ulama bahawa Allah Ta’ala itu tidak diliputi oleh langit dan tidak berlaku zaman atas-Nya.”Masih dalam kitab dan halaman yang sama untuk menguatkan pernyataan beliau di atas, al-Baghdadi mengutip perkataan Sayyidina Ali r.a. seperti berikut:إن الله تعالى خلق العرش إظهارًا لقدرته لا مكانا لذاته“Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan arasy untuk menampakkan kekuasaan-Nya, bukan untuk tempat zat-Nya.”dan perkataan Sayyidina Ali r.a yang lain:قد كان ولا مكان، وهو الان على ما كان“Adalah Allah, tiada tempat bagi-Nya, dan Dia sekarang sebagaimana sebelumnya”[1]2. Ibnu al-Jauzi (w. 597 H), salah seorang ulama hadits bermazhab Hanbali menyebut dalam kitabnya, Daf’u Syubah al-Tasybih bi Akaffi al-Tanzih seperti berikut:قد ثبت عند العلماء أن الله تعالى لا تحويه السماء والارض ولا تضمه الاقطار ، وإنما عرف بإشارتها تعظيم الخالق عندها .“Telah tetap di kalangan para ulama bahawa Allah Yang Maha Tinggi tidak diliputi oleh langit dan bumi dan tidak pula dihimpun oleh penjuru. Akan tetapi ditunjuk kearah langit sebagai pengagungan Zat Maha Pencipta.”[2]3. Mulla Ali al-Qarii (w. 1014 H), seorang ulama hadits terkenal dalam kitabnya Syarh Fiqh al-Akbar karya Abu Hanifah, mengatakan bahawa Syeikh al-Imam Ibnu Abdussalam dalam kitabnya Hall al-Rumuz mengatakan:قال الامام ابو حنيفة رضي الله عنه : من قال لا اعرف الله تعالى في السماء هو ام في الارض فقد كفر لان هذا القول يوهم ان للحق مكانا ومن توهم ان للحق مكانا فهو مشبه“Imam Abu Hanifah mengatakan, Barangsiapa yang mengatakan saya tidak tahu apakah Allah berada di langit ataukah berada di bumi maka dia telah kafir, kerana perkataan ini memberikan persangkaan bahawa Allah bertempat, dan barang siapa yang menyangka bahawa Allah bertempat maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.”Seterusnya Mulla Ali al-Qarii mengatakan, tidak diragukan bahawa Ibnu Abdussalam adalah seorang ulama besar dan sangat dipercayai, maka wajib berpegang pada kutipannya.[3]4. Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H), seorang ahli hadits terkenal bermazhab Syafi’i mengatakan dalam kitabnya, Fathul Barri seperti berikut:فإن إدراك العقول لاسرار الربوبية قاصر فلا يتوجه على حكمه لم ولا كيف ؟ كما لا يتوجه عليه في وجوده أين. “Sesungguhnya jangkauan akal terhadap rahsia-rahsia ketuhanan itu terlampau pendek untuk menggapainya, maka tidak boleh dialamatkan untuk menetapkan-Nya, mengapa dan bagaimana begini? Sebagaimana tidak boleh juga mengalamatkan kepada keberadaan Zat-Nya, di mana?.”[4]Keyakinan adanya Allah di langit bertentangan dengan penjelasan al-Asqalani di atas yang mengatakan bahawa wujud Allah tidak dapat diisyaratkan dengan kata-kata: “di mana?”. Kerana langit merupakan tempat yang dapat menjadi jawapan pertanyaan “di mana”.5. Al-Zabidi telah menukil perkataan Imam Syafi’i dalam kitabnya, Ittihaf al-Saadah al- Muttaqin bi Syarh Ihya ‘Ulumuddin seperti berikut:إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لا يجوز عليه التغيير في ذاته ولا التبديل في صفاته.“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah ada sedangkan tempat belum ada. Lalu Dia menciptakan tempat. Dia tetap atas sifat-Nya sejak azali sebagaimana sebelum Dia menciptakan tempat. Mustahil atas-Nya perubahan dalam Zat-Nya dan pergantian pada sifat-Nya.” [5]6. Imam Ghazali (w. 505 H) menegaskan dalam kitab beliau yang terkenal, iaitu Ihya ‘Ulumuddin seperti berikut:ولا يحل فيه شئ تعالى عن ان يحويه مكان كما تقدس عن ان يحده زمان بل كان قبل ان خلق الزمان والمكان وهو الان على ما عليه كان“Tidak menempati pada-Nya sesuatu pun, Maha Suci Allah dari meliputi oleh tempat sebagaimana Maha Suci Dia dari pembatasan oleh zaman, tetapi Dia telah ada sebelum diciptakan zaman dan tempat, Dia sekarang sebagaimana ada sebelumnya.”[6]7. Imam al-Juwaini (w. 478 H), guru dari Imam al-Ghazali mengatakan dalam kitab al-Isyad seperti berikut:ومذهب اهل الحق قاطبة ان الله سبحانه وتعالى يتعالى عن التحيز والتخصيص بالجهات“Mazhab ahlul haq dari ulama quthub sesungguhnya Allah SWT Maha Suci dari mengambil tempat dan dari dibatasi dengan arah.”[7]8. Dalam Matan al-Aqidah al-Thahawiyah, Imam al-Thahawi al-Hanafi dalam menjelaskan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah berdasarkan akidah Abu Hanifah, Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim al-Anshary dan Abu Abdullah Muhammad bin Hasan al-Syaibani, beliau mengatakan:لا تحويه الجهات الست“Allah itu tidak diliputi oleh jihat (arah) yang enam.”[8]Mengatakan Allah bertempat di langit bererti mengi’tiqadkan Allah berada pada salah satu arah yang enam, iaitu arah atas. Dengan demikian, i’tiqad Allah bertempat di langit bertentangan dengan keterangan yang telah dijelaskan oleh Imam al-Juwaini dan al-Thahawi di atas.9. Majlis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh dalam keputusan fatwanya No. 09 Tahun 2014, Tanggal 25 Jun 2014 memutuskan antara lain:a. Mengimani bahawa zat Allah hanya di atas langit/arasy adalah sesat dan menyesatkan.b. Mengimani bahawa zat Allah terikat dengan waktu, tempat dan arah (berjihat) adalah sesat dan menyesatkan.Dalil-dalil yang menegaskan keyakinan bahawa Allah tidak bertempat di langit1. Firman Allah Ta’ala berbunyi:لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُErtinya: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. (Q.S. al-Syuraa: 11)Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al-Qur’an yang menjelaskan bahawa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Seandainya Allah mempunyai tempat seperti langit dan arah, maka akan serupa dengan-Nya. Kerana dengan demikian, bererti ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan tinggi), sedangkan panjang, lebar dan tinggi merupakan sifat yang khusus terdapat pada benda yang baharu.2. Ijmak para ulama bahawa tidak ada yang azali dan qadim selain Allah ini sesuai dengan firman Allah Q.S al-Hadid: 3, berbunyi:هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُErtinya: Dia (Allah) yang awal dan yang akhir (Q.S al-Hadid: 3)Dalam ayat lain Allah berfirman, yakni Q.S. al-An’am: 101, berbunyi:وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌErtinya: Dia (Allah) menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Q.S. al-An’am: 101)Allah Ta’ala dengan jelas menerangkan melalui firman-Nya ini bahawa semua yang ada merupakan ciptaan-Nya, jadi tidak ada sesuatu pun selain-Nya yang bukan ciptaan Allah. Sesuatu disebut sebagai ciptaan tentu merupakan sesuatu yang ada sesudah tidak ada. Dengan demikian, tidak ada yang qadim dan azali selain Allah.Hadits Nabi SAW di bawah ini juga mendukung keyakinan bahawa tidak ada yang qadim selain Allah, yakni sabda Nabi SAW yang berbunyi:كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُErtinya : Ada Allah tidak ada sesuatupun selain-Nya (H.R. Bukhari) [9]Berdasarkan firman Allah dan hadits di atas, maka bererti Allah ada sebelum terciptanya tempat (langit) dan arah, maka Ia tidak memerlukan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari asal, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, kerana berubah adalah ciri dari sesuatu yang baharu (makhluk). Seandainya Allah berada pada suatu tempat (langit), maka Allah tentu menyerupai makhluk, yakni berpindah dari azal kepada langit yang datang kemudian (yang diciptakannya). 3. Firman Allah Ta’ala berbunyi:قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلْ لِلَّهِErtinya: Katakanlah: "Milik siapakah apa yang ada di langit dan di bumi." Katakanlah: "Milik Allah." (Q.S. al-An’am: 12)Berdasarkan ayat ini, maka semua yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah Ta’ala. Oleh itu, apabila kita mengatakan Allah bertempat di langit, maka Allah itu menjadi milik Allah juga. Tentu ini mustahil terjadi, kerana Allah tidak mungkin memiliki diri-Nya sendiri.4. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda dalam doanya:اللهم أنت الاول فليس قبلك شئ وأنت الآخر فليس بعدك شئ وأنت الظاهر فليس فوقك شئ وأنت الباطن فليس دونك شئ اقض عنا الدين واغننا من الفقرErtinya: Ya Allah, Engkaulah Zat Yang Maha Awal, maka tiada sesuatupun sebelum-Mu. Engkaulah Zat Yang Maha Akhir, maka tiada sesuatupun setelah-Mu. Engkaulah Zat Yang Maha Zahir maka tiada sesuatupun di atas-Mu dan Engkaulah Zat yang Maha Batin maka tiada sesuatu di bawah-Mu. Ya Allah selesaikanlah hutangku dan kayakan aku dari kefakiran. (H.R. Muslim)[10]Dalam kitab al-Asmaa wa al-Shifat, al-Baihaqi menyebutkan bahawa sebahagian ulama telah menjadikan hadits ini sebagai dalil bahawa Allah Ta’ala tidak bertempat. Penjelasannya, apabila di atas Allah tidak ada sesuatu pun dan di bawah-Nya juga tidak ada sesuatu, maka Allah tidak berada di tempat manapun.[11]5. Hadits riwayat Abu Ya’la dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah SAW bersabda:أذن لي أن أحدث عن ملك قد مرقت رجلاه في الارض السابعة والعرش على منكبه وهو يقول سبحانك أين كنت وأين تكونErtinya: Aku telah diizinkan untuk menyampaikan berita bahawa ada seorang malaikat yang kedua kakinya terperosok dalam bumi lapis ketujuh sedang Arasy berada di pundaknya, ia berkata, “Maha Suci Allah (dari) di mana Engkau? Di mana Engkau nanti?(H.R. Abu Ya’la)[12]Al-Haitsami mengatakan, rijalnya rijal sahih.[13] Berdasarkan hadits ini, malaikat bertasbih dengan mengucapkan Maha Suci Allah dari pertanyaan di mana Allah? Seandainya Allah bertempat di langit, maka tasbih malaikat yang tersebut dalam hadits di atas tentu tidaklah tepat. Ini menunjukkan bahawa Allah Ta’ala itu tidak bertempat, baik di langit mahupun di mana sahaja.Catatan:Hadits-hadits sahih yang kami kemukakan di atas meskipun darjatnya ahad (dhanni wurud), tetapi kandungannya adalah qath’i, mengingat kandungan hadits tersebut bersesuaian dengan maksud firman Allah di atas.[1] Abd al-Qahir al-Baghdadi, al-Farq baina al-Firaq, Maktabah Ibnu Sina, Kairo, Hal. 287[2] Ibnu al-Jauzi, Daf’u Syubah al-Tasybih bi Akaffi al-Tanzih, Dar al-Imam al-Rawas, Beirut, Hal. 189[3] Mulla Ali al-Qarii, Syarah Fiqh al-Akbar, Hal. 137-138[4] Ibnu Hajar al-Asqalany, Fathul Barri, al-Maktabah al-Salafiyah, Juz. I, Hal. 221[5] Al-Zabidi, Ittihaf al-Saadah al- Muttaqin, Muassisah li Tarikh al-Araby, Beirut, Juz. II, Hal. 24[6] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 89[7] Al-Juwaini, al-Irsyad, Maktabah al-Khaaniji, Mesir, Hal. 39[8] al-Thahawi, Matan al-Aqidah al-Thahawiyah, al-Maktab al-Islami, Hal. 7[9] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 129[10] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 2084, No. 2713[11] Al-Baihaqi, al-Asmaa wa al-Shifat, al-Maktabah al-Azhariyah lil Turatsi, Hal. 373[12] Abu Ya’la, Musnad Abu Ya’la, Maktabah Syamilah, Juz. XI, Hal. 496, No. 6619[13] Al-Manawi, Faidh al-Qadir, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 458.
DALIL 1 ( AYAT 7 SURAH ALI IMRAAN )
DALIL 2 ( AL BAQARAH AYAT 186 )
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanku (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul.
Asbabun Nuzul ayat ini :( Peristiwa ketika ayat diturunkan )
- Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abusy Syaikh, dan lain-lain dari beberapa jalan, dari Jarir bin ‘Abdilhamid, dari ‘Abdah as-Sajastani, dari ash-Shalt bin Hakim bin Mu’awiyah bin Jayyidah, dari bapaknya, yang bersumber dari datuknya.
Bahwa ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi saw. yang bertanya: “Apakah Tuhan itu dekat, sehingga kami dapat munajat/memohon kepada-Nya, atau jauh, sehingga kami harus menyeru-Nya?”
Nabi saw. terdiam, sehingga turunlah ayat ini (al-Baqarah: 186) sebagai jawaban atas pertanyaan itu.
DALIL 3 ( SURAH QAAF AYAT 16 )
maksudnya :
KALAU IKUT CARA SALAFI WAHABI ( TANPA TAKWIL ) :
Cukup dengan berakidah Allah Maha Sempurna dan tidak memerlukan tempat.
DALIL 7 ( SURAH AL BURUJ AYAT 19-20 )
KALAU IKUT CARA SALAFI WAHABI ( TANPA TAKWIL ) :
Cukup dengan berakidah Allah Maha Sempurna dan tidak memerlukan tempat.
DALIL 8 ( SURAH AL BAQARAH AYAT 115 )
Maksudnya :
Dan Allah jualah yang memiliki timur dan barat, maka ke mana sahaja kamu arahkan diri (ke kiblat untuk mengadap Allah) maka di situlah wajah Allah; sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmatNya dan limpah kurniaNya), lagi sentiasa Mengetahui.
KALAU IKUT CARA SALAFI WAHABI ( TANPA TAKWIL ) :
ke arah mana kita menghadap kiblat di situ wajah Allah ?? sekali lagi zahir ayat kata
Allah bukan di arasy
DALIL 9 ( SURAH AS SAAFFAT AYAT 99 )
KALAU IKUT CARA SALAFI WAHABI ( TANPA TAKWIL ) :
andai diikut makna zahir ayat tanpa taqwil ( cari makna tersirat ), maka Nabi Ibrahim berkata Allah berada di Palestin , bukan di arasy atau langit.
KALAU IKUT CARA SALAFI WAHABI ( TANPA TAKWIL ) :
Main cara salafi wahabi, zahir ayat hadis ni makna Tuhan berada di antara dia dan kiblat dan bukan di langit atau arasy., jadi orang solat di malaysia, Allah berada antara dia dan kaabah ikut arah malaysia ? orang solat di Jepun, Allah di antara dia dan kaabah ikut arah Jepun ?
Cukup lah berakidah Allah Maha Sempurna , tidak memerlukan tempat iaitu makhluk ciptaan Allah.
DALIL 11 ( KITAB FARQ BAINA WAL FIRAQ : 256 )
Ulama' salaf Imam Abu Manshur al Baghdadi berkata dalam kitabnya :
"Kaum muslimin sejak generasi salaf ( para sahabat dan tabi'in) telah bersepakat bahawa Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh waktu "
DALIL 12 ( HADIS RIWAYAT BUKHARI : 3191 )
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، حَدَّثَنَا جَامِعُ بْنُ شَدَّادٍ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَقَلْتُ نَاقَتِي بِالْبَابِ فَأَتَاهُ نَاسٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ، فَقَالَ: "اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ، قَالُوا: قَدْ بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا مَرَّتَيْنِ، ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ، فَقَالَ: اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ، قَالُوا: قَدْ قَبِلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالُوا: جِئْنَاكَ نَسْأَلُكَ عَنْ هَذَا الْأَمْرِ، قَالَ: كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَنَادَى مُنَادٍ ذَهَبَتْ نَاقَتُكَ يَا ابْنَ الْحُصَيْنِ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا هِيَ يَقْطَعُ دُونَهَا السَّرَابُ فَوَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ تَرَكْتُهَا".
Diriwayatkan dari Imran bin Hushain ra, dia berkata: Rasulullah Saw pernah bersabda, "Allah ada sebelum segala sesuatu selain Allah ada. Arasy Allah di atas air (benda cair). Allah menetapkan segala sesuatu di dalam Kitab dan Allah menciptakan langit dan bumi". Ketika Rasulullah Saw sedang bercerita seperti itu, tiba-tiba ada seseorang memanggil Imran bin Hushain, "Hai Imran, ontamu kabur". Kata Imran, "Maka saya beranjak, tiba-tiba saya tidak bisa melihat onta saya karena terhalang kabut. Demi Allah, saya ingin rasanya membiarkan onta saya (agar bisa tetap mendengarkan sabda Rasulullah Saw).
Ulasan :
Nabi sendiri sudah terang dan jelas bersabda Allah wujud sebelum tercipta sekalian makhluk alam ni termasuk arasy... dan sifat Allah kekal dan tidak berubah yakni sifat Allah sebelum arasy tercipta dan selepas arasy tercipta kekal sama yakni tidak memerlukan arasy dan tidak bertempat.
DALIL 13 ( SUNAN ALTIRMIZI : 3109 )
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ وَكِيعِ بْنِ حُدُسٍ، عَنْ عَمِّهِ أَبِي رَزِينٍ، قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ ؟ قَالَ : " كَانَ فِي عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ وَخَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ " ، قَالَ أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ ، قَالَ يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ الْعَمَاءُ : أَيْ لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ ، قَالَ أَبُو عِيسَى : هَكَذَا رَوَى حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ ، وَكِيعُ بْنُ حُدُسٍ ، وَيَقُولُ شُعْبَةُ ، وَأَبُو عَوَانَةَ ، وَهُشَيْمٌ : وَكِيعُ بْنُ عُدُسٍ وَهُوَ أَصَحُّ ، وَأَبُو رَزِينٍ اسْمُهُ لَقِيطُ بْنُ عَامِرٍ ، قَالَ : وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ .
DALIL 9 ( SURAH AS SAAFFAT AYAT 99 )
Maksudnya :
Dan Nabi Ibrahim pula berkata: "Aku hendak (meninggalkan kamu) pergi kepada Tuhanku, Ia akan memimpinku (ke jalan yang benar).
KALAU IKUT CARA SALAFI WAHABI ( TANPA TAKWIL ) :
andai diikut makna zahir ayat tanpa taqwil ( cari makna tersirat ), maka Nabi Ibrahim berkata Allah berada di Palestin , bukan di arasy atau langit.
Ulasan :
Cukup dengan berakidah Allah Maha Sempurna dan tidak memerlukan tempat.
DALIL 10 ( HADIS RIWAYAT BUKHARI : 405 )
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ، فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ، فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ فَقَالَ " إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلاَتِهِ، فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ ـ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ ـ فَلاَ يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ، وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ، أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ ". ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيهِ، ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ، فَقَالَ " أَوْ يَفْعَلْ هَكَذَا ".
maksudnya :
Qutaibah menyampaikan kepada kami dari Ismail bin Ja’far, dari Humaid, dari Anas bahwa Nabi fg melihat dahak di arah kiblat (di dinding masjid). Beliau merasa terganggu dengan hal itu, yang nampak pada ekspresi wajahnya. Kemudian, beliau berdiri dan menggosoknya lalu berkata, “Sungguh, ketika salah seorang dari kalian mendirikan shalat, berarti dia sedang bermunajat kepada Tuhannya, atau Tuhannya berada di antara dia dan kiblat (menghadap Tuhannya). Oleh karena itu, jangan pernah meludah ke arah kiblat, tapi muludahlah ke arah kiri atau di bawah kakinya .“ Kemudian, Nabi & mengambil ujung rida’-nya, meludah di dalamnya, lalu melipatnya dan berkata, “Atau lakukanlah seperti ini.“
KALAU IKUT CARA SALAFI WAHABI ( TANPA TAKWIL ) :
Main cara salafi wahabi, zahir ayat hadis ni makna Tuhan berada di antara dia dan kiblat dan bukan di langit atau arasy., jadi orang solat di malaysia, Allah berada antara dia dan kaabah ikut arah malaysia ? orang solat di Jepun, Allah di antara dia dan kaabah ikut arah Jepun ?
Cukup lah berakidah Allah Maha Sempurna , tidak memerlukan tempat iaitu makhluk ciptaan Allah.
DALIL 11 ( KITAB FARQ BAINA WAL FIRAQ : 256 )
Ulama' salaf Imam Abu Manshur al Baghdadi berkata dalam kitabnya :
"Kaum muslimin sejak generasi salaf ( para sahabat dan tabi'in) telah bersepakat bahawa Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh waktu "
DALIL 12 ( HADIS RIWAYAT BUKHARI : 3191 )
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، حَدَّثَنَا جَامِعُ بْنُ شَدَّادٍ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَقَلْتُ نَاقَتِي بِالْبَابِ فَأَتَاهُ نَاسٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ، فَقَالَ: "اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ، قَالُوا: قَدْ بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا مَرَّتَيْنِ، ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ، فَقَالَ: اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ، قَالُوا: قَدْ قَبِلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالُوا: جِئْنَاكَ نَسْأَلُكَ عَنْ هَذَا الْأَمْرِ، قَالَ: كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَنَادَى مُنَادٍ ذَهَبَتْ نَاقَتُكَ يَا ابْنَ الْحُصَيْنِ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا هِيَ يَقْطَعُ دُونَهَا السَّرَابُ فَوَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ تَرَكْتُهَا".
Diriwayatkan dari Imran bin Hushain ra, dia berkata: Rasulullah Saw pernah bersabda, "Allah ada sebelum segala sesuatu selain Allah ada. Arasy Allah di atas air (benda cair). Allah menetapkan segala sesuatu di dalam Kitab dan Allah menciptakan langit dan bumi". Ketika Rasulullah Saw sedang bercerita seperti itu, tiba-tiba ada seseorang memanggil Imran bin Hushain, "Hai Imran, ontamu kabur". Kata Imran, "Maka saya beranjak, tiba-tiba saya tidak bisa melihat onta saya karena terhalang kabut. Demi Allah, saya ingin rasanya membiarkan onta saya (agar bisa tetap mendengarkan sabda Rasulullah Saw).
Ulasan :
Nabi sendiri sudah terang dan jelas bersabda Allah wujud sebelum tercipta sekalian makhluk alam ni termasuk arasy... dan sifat Allah kekal dan tidak berubah yakni sifat Allah sebelum arasy tercipta dan selepas arasy tercipta kekal sama yakni tidak memerlukan arasy dan tidak bertempat.
DALIL 13 ( SUNAN ALTIRMIZI : 3109 )
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ وَكِيعِ بْنِ حُدُسٍ، عَنْ عَمِّهِ أَبِي رَزِينٍ، قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ ؟ قَالَ : " كَانَ فِي عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ وَخَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ " ، قَالَ أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ ، قَالَ يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ الْعَمَاءُ : أَيْ لَيْسَ مَعَهُ شَيْءٌ ، قَالَ أَبُو عِيسَى : هَكَذَا رَوَى حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ ، وَكِيعُ بْنُ حُدُسٍ ، وَيَقُولُ شُعْبَةُ ، وَأَبُو عَوَانَةَ ، وَهُشَيْمٌ : وَكِيعُ بْنُ عُدُسٍ وَهُوَ أَصَحُّ ، وَأَبُو رَزِينٍ اسْمُهُ لَقِيطُ بْنُ عَامِرٍ ، قَالَ : وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ .
maksudnya :
"Abi Razin berkata , :" Aku berkata , Wahai Rasulullah, di mana kah Tuhan kita sebelum menciptakan makhluk-Nya? Rasulullah bersabda , " Allah ada tanpa sesuatu apa pun yang menyertaiNya. Di atasNya tidak ada sesuatu dan dibawahNya tidak ada sesuatu. Lalu Allah menempatkan arasy di atas air"
Ulasan :
Jelas, sebelum dicipta arasy , Rasulullah bersabda Allah wujud tanpa ada sesuatu pun termasuk arasy sebelum mula dicipta makhlukNya. Allah tidak berubah sebelum dan selepas penciptaan makhlukNya.
DALIL 14 ( AKIDAH SAIYYIDINA ALI )
"Allah ada sebelum adanya tempat. Dan keberadaan Allah sekarang , sama seperti sebelum adanya tempat " - al-Farq bayna al-Firaq 256 )
ulasan :
Sayyidina Ali, sahabat Rasulullah yang dijamin syurga berakidah Allah setelah tercipta makhluk kekal sama seperti sebelum dicipta makhluk dan tempat.
Clear ! Allah tidak di arasy atau di langit.
**SEBEGITU BANYAK DALIL DIATAS , BAHKAN LEBIH DARI ITU CUKUP UNTUK MENJELASKAN PADA ORANG AWAM BAHAWA BERAKIDAH ALLAH DUDUK DI LANGIT ATAU ARASY ITU TIDAK BENAR, TIDAK TEPAT, DAN BUKAN AKIDAH SALAF. IANYA KEJAHILAN ATAU AKIDAH BATIL REKAAN YANG MENGAMBIL ZAHIR MAKNA AYAT MUTASYABIHAT UNTUK MENGIKUT HAWA NAFSU MEREKA.
CUKUP BERAKIDAH, ALLAH WUJUD TIDAK MEMERLUKAN TEMPAT, DAN ALLAH MAHA SEMPURNA !!]
ALLAH BUKAN DI LANGIT (BAHAGIAN 1)
Salah satu keyakinan Islam yang wajib diyakini adalah bahawa Allah Ta’ala itu tidak berada di suatu tempat, tidak di langit dan tidak di bumi.
Keyakinan keberadaan Allah di langit ini merupakan sebuah keyakinan sesat dan menyesatkan. Keyakinan Allah bertempat di langit bermula dari keyakinan kelompok yang sering disebut sebagai kelompok mujassimah (kelompok yang menyatakan tuhan bersifat dengan sifat benda. Pada zaman sekarang mereka sering menamakan dirinya sebagai kaum Salafi).
Berikut ini keterangan para ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah yang menjelaskan bahawa Allah tidak bertempat di langit, yakni sebagai berikut:
1. Abd al-Qahir al-Bagdadi (w. 429 H) dalam kitabnya al-Farq baina al-Firaq mengatakan:
واجمعوا على انه لا تحويه السماء ولا يجري عليه الزمان
“Telah terjadi ijmak ulama bahawa Allah Ta’ala itu tidak diliputi oleh langit dan tidak berlaku zaman atas-Nya.”
Masih dalam kitab dan halaman yang sama untuk menguatkan pernyataan beliau di atas, al-Baghdadi mengutip perkataan Sayyidina Ali r.a. seperti berikut:
إن الله تعالى خلق العرش إظهارًا لقدرته لا مكانا لذاته
“Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan arasy untuk menampakkan kekuasaan-Nya, bukan untuk tempat zat-Nya.”
dan perkataan Sayyidina Ali r.a yang lain:
قد كان ولا مكان، وهو الان على ما كان
“Adalah Allah, tiada tempat bagi-Nya, dan Dia sekarang sebagaimana sebelumnya”[1]
2. Ibnu al-Jauzi (w. 597 H), salah seorang ulama hadits bermazhab Hanbali menyebut dalam kitabnya, Daf’u Syubah al-Tasybih bi Akaffi al-Tanzih seperti berikut:
قد ثبت عند العلماء أن الله تعالى لا تحويه السماء والارض ولا تضمه الاقطار ، وإنما عرف بإشارتها تعظيم الخالق عندها .
“Telah tetap di kalangan para ulama bahawa Allah Yang Maha Tinggi tidak diliputi oleh langit dan bumi dan tidak pula dihimpun oleh penjuru. Akan tetapi ditunjuk kearah langit sebagai pengagungan Zat Maha Pencipta.”[2]
3. Mulla Ali al-Qarii (w. 1014 H), seorang ulama hadits terkenal dalam kitabnya Syarh Fiqh al-Akbar karya Abu Hanifah, mengatakan bahawa Syeikh al-Imam Ibnu Abdussalam dalam kitabnya Hall al-Rumuz mengatakan:
قال الامام ابو حنيفة رضي الله عنه : من قال لا اعرف الله تعالى في السماء هو ام في الارض فقد كفر لان هذا القول يوهم ان للحق مكانا ومن توهم ان للحق مكانا فهو مشبه
“Imam Abu Hanifah mengatakan, Barangsiapa yang mengatakan saya tidak tahu apakah Allah berada di langit ataukah berada di bumi maka dia telah kafir, kerana perkataan ini memberikan persangkaan bahawa Allah bertempat, dan barang siapa yang menyangka bahawa Allah bertempat maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.”
Seterusnya Mulla Ali al-Qarii mengatakan, tidak diragukan bahawa Ibnu Abdussalam adalah seorang ulama besar dan sangat dipercayai, maka wajib berpegang pada kutipannya.[3]
4. Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H), seorang ahli hadits terkenal bermazhab Syafi’i mengatakan dalam kitabnya, Fathul Barri seperti berikut:
فإن إدراك العقول لاسرار الربوبية قاصر فلا يتوجه على حكمه لم ولا كيف ؟ كما لا يتوجه عليه في وجوده أين.
“Sesungguhnya jangkauan akal terhadap rahsia-rahsia ketuhanan itu terlampau pendek untuk menggapainya, maka tidak boleh dialamatkan untuk menetapkan-Nya, mengapa dan bagaimana begini? Sebagaimana tidak boleh juga mengalamatkan kepada keberadaan Zat-Nya, di mana?.”[4]
Keyakinan adanya Allah di langit bertentangan dengan penjelasan al-Asqalani di atas yang mengatakan bahawa wujud Allah tidak dapat diisyaratkan dengan kata-kata: “di mana?”. Kerana langit merupakan tempat yang dapat menjadi jawapan pertanyaan “di mana”.
5. Al-Zabidi telah menukil perkataan Imam Syafi’i dalam kitabnya, Ittihaf al-Saadah al- Muttaqin bi Syarh Ihya ‘Ulumuddin seperti berikut:
إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لا يجوز عليه التغيير في ذاته ولا التبديل في صفاته.
“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah ada sedangkan tempat belum ada. Lalu Dia menciptakan tempat. Dia tetap atas sifat-Nya sejak azali sebagaimana sebelum Dia menciptakan tempat. Mustahil atas-Nya perubahan dalam Zat-Nya dan pergantian pada sifat-Nya.” [5]
6. Imam Ghazali (w. 505 H) menegaskan dalam kitab beliau yang terkenal, iaitu Ihya ‘Ulumuddin seperti berikut:
ولا يحل فيه شئ تعالى عن ان يحويه مكان كما تقدس عن ان يحده زمان بل كان قبل ان خلق الزمان والمكان وهو الان على ما عليه كان
“Tidak menempati pada-Nya sesuatu pun, Maha Suci Allah dari meliputi oleh tempat sebagaimana Maha Suci Dia dari pembatasan oleh zaman, tetapi Dia telah ada sebelum diciptakan zaman dan tempat, Dia sekarang sebagaimana ada sebelumnya.”[6]
7. Imam al-Juwaini (w. 478 H), guru dari Imam al-Ghazali mengatakan dalam kitab al-Isyad seperti berikut:
ومذهب اهل الحق قاطبة ان الله سبحانه وتعالى يتعالى عن التحيز والتخصيص بالجهات
“Mazhab ahlul haq dari ulama quthub sesungguhnya Allah SWT Maha Suci dari mengambil tempat dan dari dibatasi dengan arah.”[7]
8. Dalam Matan al-Aqidah al-Thahawiyah, Imam al-Thahawi al-Hanafi dalam menjelaskan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah berdasarkan akidah Abu Hanifah, Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim al-Anshary dan Abu Abdullah Muhammad bin Hasan al-Syaibani, beliau mengatakan:
لا تحويه الجهات الست
“Allah itu tidak diliputi oleh jihat (arah) yang enam.”[8]
Mengatakan Allah bertempat di langit bererti mengi’tiqadkan Allah berada pada salah satu arah yang enam, iaitu arah atas. Dengan demikian, i’tiqad Allah bertempat di langit bertentangan dengan keterangan yang telah dijelaskan oleh Imam al-Juwaini dan al-Thahawi di atas.
9. Majlis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh dalam keputusan fatwanya No. 09 Tahun 2014, Tanggal 25 Jun 2014 memutuskan antara lain:
a. Mengimani bahawa zat Allah hanya di atas langit/arasy adalah sesat dan menyesatkan.
b. Mengimani bahawa zat Allah terikat dengan waktu, tempat dan arah (berjihat) adalah sesat dan menyesatkan.
Dalil-dalil yang menegaskan keyakinan bahawa Allah tidak bertempat di langit
1. Firman Allah Ta’ala berbunyi:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Ertinya: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat. (Q.S. al-Syuraa: 11)
Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al-Qur’an yang menjelaskan bahawa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya.
Seandainya Allah mempunyai tempat seperti langit dan arah, maka akan serupa dengan-Nya. Kerana dengan demikian, bererti ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan tinggi), sedangkan panjang, lebar dan tinggi merupakan sifat yang khusus terdapat pada benda yang baharu.
2. Ijmak para ulama bahawa tidak ada yang azali dan qadim selain Allah ini sesuai dengan firman Allah Q.S al-Hadid: 3, berbunyi:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ
Ertinya: Dia (Allah) yang awal dan yang akhir (Q.S al-Hadid: 3)
Dalam ayat lain Allah berfirman, yakni Q.S. al-An’am: 101, berbunyi:
وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Ertinya: Dia (Allah) menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Q.S. al-An’am: 101)
Allah Ta’ala dengan jelas menerangkan melalui firman-Nya ini bahawa semua yang ada merupakan ciptaan-Nya, jadi tidak ada sesuatu pun selain-Nya yang bukan ciptaan Allah.
Sesuatu disebut sebagai ciptaan tentu merupakan sesuatu yang ada sesudah tidak ada. Dengan demikian, tidak ada yang qadim dan azali selain Allah.
Hadits Nabi SAW di bawah ini juga mendukung keyakinan bahawa tidak ada yang qadim selain Allah, yakni sabda Nabi SAW yang berbunyi:
كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ
Ertinya : Ada Allah tidak ada sesuatupun selain-Nya (H.R. Bukhari) [9]
Berdasarkan firman Allah dan hadits di atas, maka bererti Allah ada sebelum terciptanya tempat (langit) dan arah, maka Ia tidak memerlukan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari asal, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, kerana berubah adalah ciri dari sesuatu yang baharu (makhluk).
Seandainya Allah berada pada suatu tempat (langit), maka Allah tentu menyerupai makhluk, yakni berpindah dari azal kepada langit yang datang kemudian (yang diciptakannya).
3. Firman Allah Ta’ala berbunyi:
قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلْ لِلَّهِ
Ertinya: Katakanlah: "Milik siapakah apa yang ada di langit dan di bumi." Katakanlah: "Milik Allah." (Q.S. al-An’am: 12)
Berdasarkan ayat ini, maka semua yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah Ta’ala. Oleh itu, apabila kita mengatakan Allah bertempat di langit, maka Allah itu menjadi milik Allah juga. Tentu ini mustahil terjadi, kerana Allah tidak mungkin memiliki diri-Nya sendiri.
4. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda dalam doanya:
اللهم أنت الاول فليس قبلك شئ وأنت الآخر فليس بعدك شئ وأنت الظاهر فليس فوقك شئ وأنت الباطن فليس دونك شئ اقض عنا الدين واغننا من الفقر
Ertinya: Ya Allah, Engkaulah Zat Yang Maha Awal, maka tiada sesuatupun sebelum-Mu. Engkaulah Zat Yang Maha Akhir, maka tiada sesuatupun setelah-Mu. Engkaulah Zat Yang Maha Zahir maka tiada sesuatupun di atas-Mu dan Engkaulah Zat yang Maha Batin maka tiada sesuatu di bawah-Mu. Ya Allah selesaikanlah hutangku dan kayakan aku dari kefakiran. (H.R. Muslim)[10]
Dalam kitab al-Asmaa wa al-Shifat, al-Baihaqi menyebutkan bahawa sebahagian ulama telah menjadikan hadits ini sebagai dalil bahawa Allah Ta’ala tidak bertempat. Penjelasannya, apabila di atas Allah tidak ada sesuatu pun dan di bawah-Nya juga tidak ada sesuatu, maka Allah tidak berada di tempat manapun.[11]
5. Hadits riwayat Abu Ya’la dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah SAW bersabda:
أذن لي أن أحدث عن ملك قد مرقت رجلاه في الارض السابعة والعرش على منكبه وهو يقول سبحانك أين كنت وأين تكون
Ertinya: Aku telah diizinkan untuk menyampaikan berita bahawa ada seorang malaikat yang kedua kakinya terperosok dalam bumi lapis ketujuh sedang Arasy berada di pundaknya, ia berkata, “Maha Suci Allah (dari) di mana Engkau? Di mana Engkau nanti?(H.R. Abu Ya’la)[12]
Al-Haitsami mengatakan, rijalnya rijal sahih.
[13] Berdasarkan hadits ini, malaikat bertasbih dengan mengucapkan Maha Suci Allah dari pertanyaan di mana Allah? Seandainya Allah bertempat di langit, maka tasbih malaikat yang tersebut dalam hadits di atas tentu tidaklah tepat. Ini menunjukkan bahawa Allah Ta’ala itu tidak bertempat, baik di langit mahupun di mana sahaja.
Catatan:
Hadits-hadits sahih yang kami kemukakan di atas meskipun darjatnya ahad (dhanni wurud), tetapi kandungannya adalah qath’i, mengingat kandungan hadits tersebut bersesuaian dengan maksud firman Allah di atas.
[1] Abd al-Qahir al-Baghdadi, al-Farq baina al-Firaq, Maktabah Ibnu Sina, Kairo, Hal. 287
[2] Ibnu al-Jauzi, Daf’u Syubah al-Tasybih bi Akaffi al-Tanzih, Dar al-Imam al-Rawas, Beirut, Hal. 189
[3] Mulla Ali al-Qarii, Syarah Fiqh al-Akbar, Hal. 137-138
[4] Ibnu Hajar al-Asqalany, Fathul Barri, al-Maktabah al-Salafiyah, Juz. I, Hal. 221
[5] Al-Zabidi, Ittihaf al-Saadah al- Muttaqin, Muassisah li Tarikh al-Araby, Beirut, Juz. II, Hal. 24
[6] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Thaha Putra, Semarang, Juz. I, Hal. 89
[7] Al-Juwaini, al-Irsyad, Maktabah al-Khaaniji, Mesir, Hal. 39
[8] al-Thahawi, Matan al-Aqidah al-Thahawiyah, al-Maktab al-Islami, Hal. 7
[9] Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 129
[10] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. IV, Hal. 2084, No. 2713
[11] Al-Baihaqi, al-Asmaa wa al-Shifat, al-Maktabah al-Azhariyah lil Turatsi, Hal. 373
[12] Abu Ya’la, Musnad Abu Ya’la, Maktabah Syamilah, Juz. XI, Hal. 496, No. 6619
[13] Al-Manawi, Faidh al-Qadir, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 458.












No comments:
Post a Comment